Apakah Pil Plasebo Efektif untuk Kesehatan?

Banyak ahli medis menyebutkan bahwa pil plasebo menjadi salah satu solusi medis terakhir yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Meski demikian, seberapa besar efektivitas plasebo masih perlu dipertanyakan.

Pada penelitian medis tentang kemoterapi, dikatakan bahwa plasebo merupakan zat yang secara fisik menyerupai obat aktif. Meski demikian tidak memiliki kandungan obat yang sesungguhnya.

Dilansir dari TIME, meskipun efek plasebo selama berabad-abad digunakan untuk menangani penyakit, Ted Kaptchuk, seorang profesor kedokteran di Harvard Medical School mencoba melakukan riset lebih lanjut seputar efek plasebo.

Studi yang dilakukan Kaptchuk terbilang unik. Ia melibatkan partisipan untuk mengonsumsi pil plasebo. Namun namun telah diberitahu sebelumnya bahwa obat itu memang plasebo. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pengujian seberapa kuat sugesti seseorang saat diminta mengonsumsi obat ini.

Efektivitas pil plasebo

Usai melakukan penelitian, hasil yang ditemukan Kaptchuk cukup mengejutkan. Lebih dari setengah partisipan penderita penyakit tertentu yang mengonsumsi pil plasebo mengalami kemajuan secara kesehatan dibanding yang tidak ikut mengonsumsinya.

Tidak hanya itu, pemakai plasebo menunjukkan efektivitas yang hampir sama dengan efek obat lainnya.

“Saya benar-benar bingung. Tapi, saya berharap obat ini bisa diberikan secara resmi walau masih dianggap menentang kebijaksanaan umum,” ujarnya.

Tidak jelas apa yang mendasari efek placebo tersebut. Beberapa ahli berpendapat bahwa tubuh manusia secara tidak sadar merespons lewat fisik dan fisiologis terhadap ritual pengobatan. Sementara itu, yang lain berpendapat hal tersebut terjadi karena adanya kekuatan berpikir positif dari para partisipan.

Tak heran bahwa kini pil plasebo banyak dijual di kalangan masyarakat karena setidaknya dapat memberikan pengaruh yang baik pada kesehatan. Kendati demikian, tidak semua orang setuju bahwa kerja plasebo bisa sebaik itu.

Namun, meskipun beberapa orang merasakan efek pil plasebo yang ampuh, sisanya tak merasakan dampak yang signifikan. Sedangkan yang lain merasa pil plasebo cenderung sama saja dengan obat-obatan biasa.

Dipengaruhi faktor lain

Saat ini plasebo dikenal dengan baik dalam pengobatan modern. Kerap ada istilah placebo effect. Itu menunjukkan tentang fenomena sembuhnya seseorang dari berbagai penyakit berkat penggunaan pil plasebo.

Para peneliti tengah mempelajari bahwa plasebo memiliki faktor tertentu yang dapat mendukung efektivitasnya. Semisal, efek pil plasebo akan lebih kuat jika orang yang mengonsumsinya kesulitan dalam menemukan obat yang diinginkan, merasa obat lain terlalu mahal, serta kondisi lain seperti alergi pada zat kimia tertentu dalam obat.

Pada sebuah studi tahun 2016 yang diterbitkan dalam jurnal Pain, para peneliti termasuk Kaptchuk secara acak menugaskan 83 orang dengan nyeri punggung kronis di sebuah rumah sakit di Lisbon. Mereka diminta untuk terus menggunakan obat pereda rasa sakit seperti biasa dan sebagian yang lain memakai pil plasebo.

Sebelum memulai penelitian, pria dan wanita mengisi kuesioner tentang intensitas rasa sakit mereka dan berapa banyak kecacatan yang dialami. Setelah itu, mereka diminta mengonsumsi pil plasebo sebanyak dua kali sehari.

Para peneliti menemukan bahwa rata-rata kelompok yang mengonsumsi obat penghilang rasa sakit melaporkan pengurangan rasa sakit ringan hingga 9 persen, 16 persen pada rasa sakit maksimum dan tidak ada pengurangan dalam kecacatan.

Tetapi, orang-orang yang secara sadar mengonsumsi plasebo mengalami penurunan rasa sakit ringan sebanyak 30 persen dan rasa sakit hebat sebesar 29 persen.

Tertarik menggunakan pil plasebo yang disebut memiliki efek positif bagi kesehatan? Meski tak memiliki efek samping berbahaya, namun butuh lebih banyak uji coba untuk memastikan seberapa ampuh pil plasebo dapat mengatasi penyakit, mulai dari yang ringan hingga berat.

Manfaat Sehat di Balik Me-Time

6 Manfaat Sehat di Balik Me-Time (Farknot Architect/Shutterstock)

 

Apakah pergi ke salon atau spa sering Anda lakukan saat merasa penat dengan pekerjaan? Hal ini biasa disebut dengan me–time, yaitu menyempatkan waktu untuk melakukan hal yang disenangi secara sendirian.

Selain dapat membuat Anda lebih bahagia, meluangkan waktu untuk sendirian juga memiliki beragam manfaat sehat. Berbeda dengan kesepian yang bisa mendatangkan berbagai penyakit, me-time dapat menjadi momen Anda menyepi sekaligus menyehatkan tubuh.

 

Manfaat Meluangkan Waktu untuk Me-Time

Berikut ini adalah manfaat yang akan Anda peroleh setelah meluangkan waktu untuk me-time:

  1. Pikiran menjadi lebih jernih

Deadline pekerjaan atau pertengkaran dengan pasangan tentu bisa membuat pikiran kalut. Padahal otak juga butuh beristirahat agar dapat berfungsi dengan baik.

Dengan menyendiri, Anda akan fokus pada diri sendiri tanpa adanya gangguan dari orang lain. Pikiran pun menjadi lebih jernih dan fokus dalam berpikir untuk menyelesaikan masalah.

  1. Lebih kreatif

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Washington University, St. Louis, Amerika Serikat, dilaporkan bahwa orang yang memikirkan ide sambil berkelompok cenderung memiliki ide–ide lebih sedikit ketimbang orang yang menyendiri untuk mencari ide baru kemudian bekerja berkelompok.

Oleh karena itu tak heran banyak orang yang memilih untuk bekerja di malam hari saat sedang sendirian guna memunculkan ide kreatif. Pikiran Anda sedang buntu dan haus ide? Cobalah lakukan me-time.

  1. Menurunkan risiko penyakit jantung

Apakah Anda merasakan relaks setelah melakukan creambath atau refleksi? Jika ya, Anda tidak sendirian. Meluangkan waktu sendiri dengan kegiatan atau hobi yang menyenangkan akan membuat Anda menjadi santai. Anda pun akan menjadi lebih bahagia sesudahnya.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh European Heart Journal, seseorang yang memiliki perasaan bahagia akan mengalami penurunan risiko penyakit jantung hingga 22 persen.

  1. Bertemu dengan orang baru

Menghabiskan waktu sendiri untuk melakukan kegiatan tanpa orang terdekat atau orang yang Anda kenal juga bisa termasuk me-time. Contohnya, Anda bisa berlibur atau menonton bioskop sendirian. Di saat sedang pergi sendiri, Anda berpotensi bertemu orang baru dengan hobi yang sama dengan Anda.

  1. Meningkatkan daya tahan tubuh

Anda memiliki rekan kerja atau teman yang suka menggerutu? Cobalah sarankan ia untuk melakukan me-time. Cara tersebut dapat membuat bahagia dan bisa berdampak pada daya tahan tubuh seseorang.

Menurut penelitian yang dipublikasikan di jurnal Pyschosomatic Medicine, orang yang memiliki emosi positif berupa perasaan bahagia, berenergi dan tenang cenderung lebih jarang terkena penyakit flu. Tentunya emosi positif tersebut bisa Anda peroleh setelah menghabiskan waktu sendirian.

  1. Menurunkan tingkat stres

Salah satu tujuan seseorang melakukan me-time adalah untuk menghilangkan stres. Melakukan hobi atau kegiatan yang disukai tanpa gangguan orang lain dapat menurunkan tingkat stres Anda. Dengan demikian, risiko Anda terkena berbagai penyakit seperti hipertensi, diabetes dan penyakit jantung pun akan berkurang.

Menjadi “egois” sesekali dengan melakukan me-time tentu tak ada salahnya. Selain akan membuat Anda bahagia, meluangkan waktu sendirian juga memiliki beragam manfaat sehat untuk tubuh, seperti yang telah dijelaskan di atas. Yuk, atur waktu me-time Anda!

Ini Dia Manfaat Berkebun sebagai Terapi Kesehatan

Ini Dia Manfaat Berkebun sebagai Terapi Kesehatan (Africa-Studio/Shutterstock)

 

Berkebun adalah kegiatan yang kerap dilakukan oleh para pecinta tanaman. Apakah Anda salah satu peminat kegiatan ini? Karena dengan berkebun, selain Anda bisa mempercantik halaman dengan aneka tanaman hias, Anda juga dapat memperoleh berbagai manfaat kesehatan. Aktivitas ini bahkan bisa menjadi salah satu bentuk terapi.

Dilansir dari CNN, terapi hortikultura alias terapi dengan budidaya tanaman memiliki manfaat yang signifikan. Terapi ini berakar dari gagasan bahwa berinteraksi dengan tanaman dapat memberikan kesejahteraan, baik itu dengan merawat kebun atau hanya memiliki tanaman di rumah.

 

Beberapa penelitian menemukan bahwa hanya berada di alam seperti berjalan-jalan melalui taman, hutan, dan lahan hijau lainnya, dapat meningkatkan kesegaran pikiran, menyeimbangkan tekanan darah, stabilitas detak jantung, hingga meredam tingkat hormon stres. Jika kebiasaan ini dilakukan terus, bukan tidak mungkin Anda bisa berumur lebih panjang.

Terapi holtikultura, bukan sekadar berkebun biasa

Merawat kebun di bawah bimbingan pakar tanaman, dalam hal ini terapi hortikultura, menjadi salah satu metode kesehatan yang sangat direkomendasikan. Hal tersebut dijelaskan oleh Joel Flagler, seorang profesor terapi hortikultura dari Rutgers University.

Ditunjukkan oleh penelitian bahwa terapi hortikultura mampu mendukung pemulihan dari penyakit tertentu, meningkatkan suasana hati, dan bahkan bisa mempersingkat masa perawatan pasien di rumah sakit.

Salah satu studi yang dilakukan Flagler dan tim peneliti adalah melihat pengaruh terapi hortikultura pada sekelompok pasien Alzheimer.

“Pasien dengan demensia dapat meningkatkan memori jangka pendeknya setelah menjalankan terapi hortikultura. Beberapa peserta dapat mengingat suara-suara di sekitar taman, bahkan hampir dua minggu setelah kejadian itu berlangsung,” ujar Flagler.

Lebih dari sekadar terapi hortikultura, berkebun secara garis besar juga memiliki manfaat fisik seperti peningkatan koordinasi tangan, mata dan jari. Menggali dengan sekop dan berdiri dalam jangka waktu lama dapat meningkatkan keseimbangan tubuh.

“Sering kali klien kami yakin bahwa benih mereka tidak akan tumbuh. Tetapi ketika benih berkecambah, dan tumbuh subur, hal itu mampu membangun rasa percaya diri dan membuat orang merasa lebih bahagia,” tambahnya.

Tumbuhan sendiri sebenarnya adalah objek terapi yang baik dan mampu memberikan sensasi relaksasi. Dengan berkebun, stimulasi sensorik seperti aroma wangi, tekstur, rasa dan bunyi-bunyi tertentu seperti suara daun hingga desir bambu dapat memberikan efek menenangkan dan memunculkan perasaan bahagia.

Manfaat berkebun lainnya yang harus Anda tahu

Diungkapkan oleh dr. Nitish Basant Adnani dari KlikDokter, karena terdapat bakteri baik di tanah, aktivitas berkebun dapat membantu menunjang fungsi sistem daya tahan tubuh. Dengan demikian, seseorang akan lebih mudah melawan infeksi dan mencegah penyakit. Hal tersebut juga dipaparkan dalam jurnal ilmiah Science.

“Sebuah penelitian lain dari University of Copenhagen turut mengemukakan bahwa berkebun juga dapat mencegah timbulnya beberapa jenis alergi tertentu dan mengurangi derajat keparahan dari reaksi alergi,” ujar dr. Nitish.

Selain itu, karena dilakukan di luar ruangan, berkebun merupakan hal yang ideal untuk mendapatkan paparan sinar matahari sembari melakukan hobi yang digemari. Sebagai antisipasi, Anda dapat mengoleskan tabir surya untuk melindungi kulit dan mengenakan kacamata hitam untuk mata.

Terlihat sederhana, ternyata berkebun juga bisa dijadikan terapi, yang kemudian lebih populer dengan sebutan terapi hortikultura. Dengan berkebun, sembari mempercantik taman atau rumah, Anda juga bisa merasakan kesehatan tubuh yang meningkat seiring berjalannya waktu.

Perawatan Wajah Bebas Ribet untuk Pria

Perawatan Wajah Bebas Ribet untuk Pria (Tverdovskaya/Shutterstock)

 

Pada dasarnya, kaum pria juga membutuhkan perawatan wajahlayaknya wanita. Namun yang membedakan adalah cara perawatannya. Jika untuk menjaga kesehatan kulit para wanita menggunakan berbagai tahapan, merawat kulit wajah pria bisa dibilang lebih praktis.

Hal ini disebabkan oleh karakter kulit pria yang berbeda dari kulit wanita. Seperti yang diungkapkan oleh dr. Reza Fahlevi dari KlikDokter, berikut ini adalah perbedaan kondisi kulit pria dibanding dengan wanita.

Kulit lebih mudah mengelupas

Kulit pria lebih mudah mengelupas dibandingkan kulit wanita. Itu sebabnya, pria harus lebih sering membersihkan wajah dan dapat menggunakan scrub pembersih wajah lebih sering dibanding wanita.

● Pori-pori lebih besar

Wajah pria memiliki pori-pori yang lebih besar dan memproduksi lebih banyak minyak. Hal ini membuat wajah pria lebih mudah timbul jerawat dibandingkan wanita. Inilah mengapa pria dianjurkan mencuci wajah secara teratur, terutama setelah berkegiatan di luar ruangan.

● Siklus hormonal

Dibandingkan kulit pria, kulit wanita lebih mudah menghitam (hiperpigmentasi) karena wanita memiliki siklus hormonal yang dapat berpengaruh pada warna kulit. Karena itu, penggunaan obat pencerah wajah tidak terlalu diperlukan oleh pria.

● Kadar kolagen

Kulit pria mengandung kadar kolagen yang lebih tinggi dibandingkan dengan kulit wanita. Hal ini menyebabkan kulit pria akan tampak lebih awet muda. Oleh karena itu, produk-produk anti-aging jarang ditujukan untuk pria.

● Terdapat rambut pada wajah

Perawatan wajah pada pria termasuk juga perawatan rambut wajah seperti kumis dan jenggot, serta cara mencukurnya.

1 dari 2 halaman

Tips merawat wajah untuk pria

Sederet perbedaan di atas secara otomatis mengharuskan pria beradaptasi dengan caranya sendiri dalam melakukan perawatan kulit wajah. Dilansir dari Healthline, begini cara mudah perawatan kulit wajah pria yang disampaikan oleh William Kwan, dokter kulit bersertifikat asal California, Amerika Serikat:

1. Bersihkan wajah di pagi hari

Kebiasaan buruk yang kerap terjadi pada kaum pria adalah malas mencuci muka setiap pagi. Biasakan untuk membersihkan wajah pada pagi sebelum beraktivitas, agar kotoran yang meresap ke dalam pori-pori wajah pada malam sebelumnya dapat terangkat.

Kwan merekomendasikan Anda untuk menggunakan sabun pembersih dengan busa ringan sebelum bercukur untuk membantu mengurangi minyak. Selama Anda tidak memiliki kulit sensitif, tidak masalah untuk berganti-ganti sabun pembersih wajah.

2. Gunakan vitamin C

Kulit dapat ternoda berkat radikal bebas yang menyebabkan stres oksidatif dan menimbulkan reaksi negatif pada tubuh. Serum antioksidan seperti vitamin C sangat membantu mengurangi kerusakan pada kulit wajah.

3. Memakai pelembap wajah

Gunakan serum antioksidan Anda bersamaan dengan pelembap yang mengandung tabir surya dan setidaknya memiliki SPF 30. Tidak hanya untuk melindungi kulit saat beraktivitas di pantai atau berolahraga di luar ruangan, penggunaan produk tersebut juga sebaiknya digunakan meskipun Anda berkegiatan di dalam ruangan.

Pada malam hari, pilih pelembap ringan tanpa tabir surya. Kendati demikian, Anda tidak harus menggunakannya jika kulit tidak terasa kering. Pelembap sangat mirip dengan air minum, sehingga gunakan saat Anda membutuhkannya saja.

“Intinya, gunakan produk perawatan wajah yang sesuai dengan masalah kulit yang sedang Anda alami saat ini. Menggunakan produk perawatan wajah pria cukup penting untuk perawatan wajah yang optimal,” kata dr. Reza.

Pria yang merawat wajah sah-sah saja. Perawatan wajah justru direkomendasikan untuk para pria agar dapat tetap menjaga kesehatan tubuhnya secara keseluruhan. Terapkan cara-cara merawat wajah di atas dan imbangi dengan pola hidup sehat.

Benarkah Terlalu Banyak Minum Air Membahayakan Kesehatan?

Benarkah Terlalu Banyak Minum Air Membahayakan Kesehatan? (Atelier KNOX/Shutterstock)

 

Minum air putih direkomendasikan oleh para ahli untuk menjaga kesehatan tubuh dan terhindar dari dehidrasi. Meski demikian, konsumsi air yang melebihi batas yang disarankan disebut-sebut dapat membahayakan tubuh Anda.

Menurut dr. Nadia Octavia dari KlikDokter, pria dewasa membutuhkan setidaknya 2,5-2,6 liter air putih (setara 8 gelas air) setiap hari. Sedangkan, wanita dewasa membutuhkan minimal 2,3 liter (setara 7 gelas air). Namun, semua itu tergantung dengan kebutuhan dan aktivitas Anda.

 

Kurang minum air memang dapat menyebabkan dehidrasi karena tubuh tidak mendapatkan asupan cairan yang cukup. Dehidrasi sendiri dapat dikelompokkan menjadi tiga derajat keparahan, yaitu dehidrasi ringan, sedang, dan berat.

Jika dehidrasi dibiarkan, maka bisa berkembang menjadi dehidrasi tingkat berat dan mengancam nyawa.

“Dehidrasi paling sering disebabkan oleh diare, demam, muntah-muntah, luka bakar, kelainan ginjal, atau penyakit lainnya. Selain itu, dehidrasi juga dapat diakibatkan oleh aktivitas yang berlebihan seperti olahraga ataupun konsumsi minuman beralkohol,” kata dr. Theresia Rina Yunita dari KlikDokter.

Namun di sisi lain, terlalu banyak minum ternyata juga bisa membahayakan kesehatan, yakni munculnya gangguan hiponatremia.

5 Kebiasaan yang Merusak Kesehatan Anda

Menjaga kesehatan wajib hukumnya. Dengan tubuh yang sehat, jiwa dan pikiran pun akan sehat, selaras, dan seimbang. Tubuh yang sehat juga membuat Anda dapat melakukan berbagai kegiatan tanpa hambatan. Ada banyak cara untuk menjaga kesehatan. Selain dengan mengatur asupan gizi harian dan rutin berolahraga, Anda juga harus menghentikan berbagai kebiasaan buruk yang diam-diam dapat merusak kesehatan.

Dilansir dari laman VeryWellHealth, berikut ini adalah beberapa kebiasaan yang tak Anda duga,  yang sesegera mungkin harus Anda hentikan demi kesehatan tubuh Anda.

 

5 Kebiasaan yang Merusak Kesehatan Anda (Nopphol/Shutterstock)

 

  1. Mengenang masa lalu yang pahit

Tak ada hal baik yang didapat dari mengenang masa lalu yang pahit. Dampaknya terhadap kesehatan psikologis terbukti lewat sebuah studi yang dipublikasikan melalui “Behaviour Research and Therapy” baru-baru ini.

Studi ini menemukan bahwa jika Anda hanya fokus secara kompulsif pada kesusahan ketimbang mencari solusi, akan rentan mengalami gejala depresi. Semakin banyak orang berpikir tentang peristiwa yang membuat stres, maka semakin besar kemungkinan mereka mengalami depresi.

Daripada buang-buang waktu mengingat hal-hal pahit di masa lalu yang tak mungkin Anda ubah, lebih baik fokuslah pada hari ini dan masa depan. Nikmati hari-hari yang Anda jalani, cari solusi segala permasalahan akibat masa lalu, dan rencanakan masa depan yang lebih baik.

  1. Mengeluh

Sebuah studi tahun 2011 yang diterbitkan dalam “Journal of Clinical Child and Adolescent Psychology” menemukan hubungan antara perilaku percakapan yang berorientasi negatif dengan depresi. Disebutkan bahwa anak-anak yang cenderung terus-terusan berkonflik dengan teman-teman sebanyanya, lebih mungkin terdiagnosis depresi.

Studi lain pada tahun 2008 yang dipublikasikan dalam jurnal “Hormones and Behaviour”, menemukan bahwa berbicara dengan teman dalam konteks negatif dapat meningkatkan hormon stres, khususnya pada wanita. Berbicara dengan teman sebetulnya dapat mengurangi stres, tapi mengulang-ulang pembicaraan mengenai kesulitan yang tengah Anda hadapi, akan meningkatkan emosi negatif dan membuat diri Anda terjebak pada suasana hati yang buruk.

Benarkah Terapi Fotografi Bisa Bantu Menangani Demensia?

Benarkah Terapi Fotografi Bisa Bantu Menangani Demensia? (Pavel-Lysenko/Shutterstock)

 

Demensia adalah gangguan fungsi kognitif menyeluruh yang bersumber dari otak. Penderitanya direkomendasikan untuk melakukan sejumlah perawatan guna mengurangi dampak negatif demensia pada tubuhnya. Salah satu rekomendasi yang tersebar di masyarakat adalah terapi fotografi.

Kondisi demensia

Ditandai dengan gangguan fungsi memori atau daya ingat, awalnya memori jangka pendek penderita akan terganggu dan disusul jangka menengah hingga panjang, tergantung tingkat keparahannya.

 

“Kondisi ini disertai satu atau lebih gangguan fungsi kognitif lain, di antaranya kemampuan berbahasa, orientasi, eksekutif atau kemampuan bertindak secara berencana dan mengambil keputusan, berhitung dan pengenalan benda,” kata dr. Nitish Basant Adnanikepada KlikDokter.

Lebih lanjut, dr. Nitish menjelaskan bahwa penderita demensia harus mendapatkan stimulasi otak seperti membaca, bercerita, menjahit, merajut, dan lain-lain. Hal ini ini dilakukan demi menghindari dampak yang lebih progresif pada otak.

Untuk membedakan demensia yang disebabkan karena proses degeneratif (penuaan) atau karena penyakit Alzheimer, perlu dilakukan pemeriksaan oleh dokter secara langsung. Hal ini penting dilakukan untuk memastikan kondisi tubuh agar mendapat penanganan yang tepat.

Sejumlah cara dan pengobatan dikatakan dapat mengurangi gejala demensia, salah satunya juga sempat disampaikan pada situs berita CNN International, bahwa salah satu cara menarik yang bisa diterapkan untuk menangani demensia adalah terapi fotografi.

Efektivitas terapi fotografi untuk demensia

Laurence Aegerter adalah seorang fotografer asal Perancis sadar betul bahwa karya fotografi bisa membantu penderita demensia, bahkan saat penyakitnya sudah dalam tahap akhir. Pada suatu waktu, ia mengunjungi pria lansia asal Swiss yang mengidap demensia dan menunjukkan sebuah foto.

Ketika Aegerter menunjukkan gambar, ia meminta lansia tersebut untuk berkomentar. Pada 10 menit pertama, lansia tersebut terlihat diam saja.

Namun kemudian saat Aegerter menunjukkan foto kucing dengan anaknya, pria lanjut usia tersebut berjuang untuk mengartikulasikan sebuah kalimat dari mulutnya dan mengucapkan kata demi kata.

“Dia bisa berbicara selama lima menit berturut-turut berkat foto. Gambar itu memicu ingatan yang cukup krusial dan sangat dalam, hingga membuatnya merasa begitu kuat untuk mengucapkan sesuatu. Pada saat berkata-kata, ia tidak terlihat seperti orang yang memiliki penyakit,” kata Aegerter.

Percobaan ini merupakan bagian dari tahap awal proyek Aegerter yang disebutnya sebagai terapi fotografi. Tujuannya sederhana, yakni untuk meningkatkan kualitas hidup pengidap demensia dengan menunjukkan karya foto.

Atas hal tersebut, Aegerter juga kemudian membukukan berbagai foto-foto yang ia gunakan untuk terapi fotografi selama rentang waktu tiga tahun. Buku foto Aegerter kemudian berhasil mendapatkan berbagai macam karya penghargaan.

Menurut National Institute on Aging, orang lanjut usia begitu rentan terkena demensia. Namun, terapi tertentu dapat memicu penderita untuk berbicara, salah satunya adalah yang dilakukan oleh Aegerter.

“Bisa jadi pria tersebut menghubungkan gambarnya dengan memori dari masa kanak-kanak dan masa remaja. Usia 15-25 tahun menurut peneliti adalah masa ketika seseorang begitu kuat mengingat peristiwa yang terjadi,” kata Aegerter.

Demensia bisa menyerang siapa saja yang telah menginjak usia lanjut, dan terapi fotografi memang bisa merangsang penderita untuk berbicara. Untuk mencegah terkena demensia, jalankan gaya hidup sehat dan konsumsi makanan bergizi. Kebiasaan sehat yang Anda lakukan di masa sekarang merupakan investasi bagi kesehatan di masa tua.