Benarkah Terapi Fotografi Bisa Bantu Menangani Demensia?

Benarkah Terapi Fotografi Bisa Bantu Menangani Demensia? (Pavel-Lysenko/Shutterstock)

 

Demensia adalah gangguan fungsi kognitif menyeluruh yang bersumber dari otak. Penderitanya direkomendasikan untuk melakukan sejumlah perawatan guna mengurangi dampak negatif demensia pada tubuhnya. Salah satu rekomendasi yang tersebar di masyarakat adalah terapi fotografi.

Kondisi demensia

Ditandai dengan gangguan fungsi memori atau daya ingat, awalnya memori jangka pendek penderita akan terganggu dan disusul jangka menengah hingga panjang, tergantung tingkat keparahannya.

 

“Kondisi ini disertai satu atau lebih gangguan fungsi kognitif lain, di antaranya kemampuan berbahasa, orientasi, eksekutif atau kemampuan bertindak secara berencana dan mengambil keputusan, berhitung dan pengenalan benda,” kata dr. Nitish Basant Adnanikepada KlikDokter.

Lebih lanjut, dr. Nitish menjelaskan bahwa penderita demensia harus mendapatkan stimulasi otak seperti membaca, bercerita, menjahit, merajut, dan lain-lain. Hal ini ini dilakukan demi menghindari dampak yang lebih progresif pada otak.

Untuk membedakan demensia yang disebabkan karena proses degeneratif (penuaan) atau karena penyakit Alzheimer, perlu dilakukan pemeriksaan oleh dokter secara langsung. Hal ini penting dilakukan untuk memastikan kondisi tubuh agar mendapat penanganan yang tepat.

Sejumlah cara dan pengobatan dikatakan dapat mengurangi gejala demensia, salah satunya juga sempat disampaikan pada situs berita CNN International, bahwa salah satu cara menarik yang bisa diterapkan untuk menangani demensia adalah terapi fotografi.

Efektivitas terapi fotografi untuk demensia

Laurence Aegerter adalah seorang fotografer asal Perancis sadar betul bahwa karya fotografi bisa membantu penderita demensia, bahkan saat penyakitnya sudah dalam tahap akhir. Pada suatu waktu, ia mengunjungi pria lansia asal Swiss yang mengidap demensia dan menunjukkan sebuah foto.

Ketika Aegerter menunjukkan gambar, ia meminta lansia tersebut untuk berkomentar. Pada 10 menit pertama, lansia tersebut terlihat diam saja.

Namun kemudian saat Aegerter menunjukkan foto kucing dengan anaknya, pria lanjut usia tersebut berjuang untuk mengartikulasikan sebuah kalimat dari mulutnya dan mengucapkan kata demi kata.

“Dia bisa berbicara selama lima menit berturut-turut berkat foto. Gambar itu memicu ingatan yang cukup krusial dan sangat dalam, hingga membuatnya merasa begitu kuat untuk mengucapkan sesuatu. Pada saat berkata-kata, ia tidak terlihat seperti orang yang memiliki penyakit,” kata Aegerter.

Percobaan ini merupakan bagian dari tahap awal proyek Aegerter yang disebutnya sebagai terapi fotografi. Tujuannya sederhana, yakni untuk meningkatkan kualitas hidup pengidap demensia dengan menunjukkan karya foto.

Atas hal tersebut, Aegerter juga kemudian membukukan berbagai foto-foto yang ia gunakan untuk terapi fotografi selama rentang waktu tiga tahun. Buku foto Aegerter kemudian berhasil mendapatkan berbagai macam karya penghargaan.

Menurut National Institute on Aging, orang lanjut usia begitu rentan terkena demensia. Namun, terapi tertentu dapat memicu penderita untuk berbicara, salah satunya adalah yang dilakukan oleh Aegerter.

“Bisa jadi pria tersebut menghubungkan gambarnya dengan memori dari masa kanak-kanak dan masa remaja. Usia 15-25 tahun menurut peneliti adalah masa ketika seseorang begitu kuat mengingat peristiwa yang terjadi,” kata Aegerter.

Demensia bisa menyerang siapa saja yang telah menginjak usia lanjut, dan terapi fotografi memang bisa merangsang penderita untuk berbicara. Untuk mencegah terkena demensia, jalankan gaya hidup sehat dan konsumsi makanan bergizi. Kebiasaan sehat yang Anda lakukan di masa sekarang merupakan investasi bagi kesehatan di masa tua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *